Memuat...
1041

Berdirinya kerajaan

Dalam kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh seorang pujangga, Mpu Prapanca. Bekas pembesar urusan agama Buddha di istana Majapahit, menyebutkan raja Airlangga yang telah memerintah dari Daha, di wilayah Panjalu atau Kadiri dan juga turut serta meriwayatkan tentang peristiwa pembelahan kerajaan. ... 1. Nahan tatwanikaɳ kamal/ widita deniɳ sampradaya sthiti, mwaɳ çri pañjalunatha riɳ daha te- (122a) wekniɳ yawabhumy/ apalih, çri airlanghya sirandani ryyasihiran/ panak/ ri saɳ rwa prabhu, ... ... 1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Airlangga kepada dua puteranya, ... — (Kakawin Nagarakretagama, Pupuh 68).

Berdirinya kerajaan

Pembagian Kerajaan oleh Airlangga
Dalam kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh seorang pujangga, Mpu Prapanca. Bekas pembesar urusan agama Buddha di istana Majapahit, menyebutkan raja Airlangga yang telah memerintah dari Daha, di wilayah Panjalu atau Kadiri dan juga turut serta meriwayatkan tentang peristiwa pembelahan kerajaan.

... 1. Nahan tatwanikaɳ kamal/ widita deniɳ sampradaya sthiti, mwaɳ çri pañjalunatha riɳ daha te- (122a) wekniɳ yawabhumy/ apalih, çri airlanghya sirandani ryyasihiran/ panak/ ri saɳ rwa prabhu, ...

... 1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Airlangga kepada dua puteranya, ...

(Kakawin Nagarakretagama, Pupuh 68).

Suksesi dan Persaingan Takhta

Menurut prasasti Turun Hyang (1044 M). Di akhir masa pemerintahannya tahun 1042, Airlangga berhadapan dengan masalah persaingan perebutan takhta antara kedua putranya.

Sanggramawijaya Tunggadewi: Raja yang sebenarnya merupakan putri Airlangga, nama asli dari putri tersebut dimuat dalam prasasti Cane (1021 M) sampai dengan prasasti Pasar Legi (1043 M) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi yang menjadi putri mahkota sekaligus pewaris takhta istana. Dalam kisah yang berkembang, putri tersebut memilih untuk mengundurkan diri dan menjalani kehidupan sebagai pertapa biksuni atau pendeta wanita Buddha, di dalam cerita rakyat ia kemudian dikenal bergelar Dewi Kili Suci.

Sri Samarawijaya: Sedangkan berita dalam prasasti Pucangan (1041 M) memuat nama baru dan memunculkan Sri Samarawijaya sebagai putra mahkota atau rakryan mahamantri i hino dan diduga adalah putra Airlangga dan merupakan adik dari Sanggramawijaya Tunggadewi. Pada umumnya jabatan mahamantri i hino akan dijabat oleh putra sulung raja dan putra kedua akan menggantikan posisinya apabila pejabat tersebut meninggal, berselang tahun kemudian berdasarkan berita prasasti Pamwatan (1042 M) dan lontar Calon Arang, Airlangga telah memindahkan ibu kotanya dan mendirikan kota Dahanapura.

Misi ke Bali dan Peran Mpu Bharada

Menurut lontar Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih penggantinya mengingat dirinya juga putra dari raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali untuk mengajukan niat tersebut tetapi mengalami kegagalan.

Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata Pangkaja sebagai raja Bali, dan Marakata selanjutnya digantikan adiknya yaitu Anak Wungsu.

Sebelum turun takhta, pada akhir November 1042, atas saran penasihat kerajaan sekaligus gurunya Mpu Bharada, Airlangga di dalam Serat Calon Arang terpaksa membagi kerajaannya:

Wilayah Panjalu (Barat): Beribukota di Daha diberikan kepada Sri Samarawijaya.

Wilayah Janggala (Timur): Beribukota di Kahuripan diberikan kepada Mapanji Garasakan.

Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga, Diam di tengah kuburan Lemah Citra, jadi pelindung rakyat, Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan, Hyang Mpu Barada nama beliau, paham tentang tiga zaman.

Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah negara, Tapal batas negara ditandai air kendi, mancur dari langit, Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan, Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.

-(Nagarakertagama, Pupuh 68)

Tarikh dan Batas Wilayah

Dalam prasasti Pamwatan yang bertanggal 20 November 1042, Airlangga masih bergelar sebagai maharaja, sedangkan di dalam keterangan prasasti Gandhakuti, tertanggal 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Maka dengan demikian, peristiwa pembagian kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut dan batas pemisah wilayah antara keduanya sesuai dalam berita prasasti Marimbong (1264 M), adalah sungai Bengawan.

Prasasti Wurare yang dipahatkan di alas sandar Arca Mahaksobhya pada masa Singhasari, menceritakan tentang dua wilayah baru yang telah terbagi yang dilakukan oleh pendeta Aryya Bharad.

Akhir Hayat dan Gelar Kependetaan Airlangga

Setelah turun takhta, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049.

Menurut Lontar Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat.

Menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu.

Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042 M) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Menurut prasasti Pasar Legi, baik Airlangga maupun Sanggramawijaya masih aktif menjalankan pemerintahan, mengikuti penyebutan gelar kependetaan Airlangga yaitu Resi Aji yang juga berarti sebagai pandita raja. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Airlangga dan putrinya masih memegang kekuasaan tertinggi sekalipun hidupnya sudah terbagi dengan kegiatan non-duniawi.