“Perekonomian kerajaan Kediri sangat bergantung pada perdagangan luar negerinya. Komoditas Ekspor dan Impor Ekspor Jawa: Gading, cula badak, mutiara, kayu wangi (cendana), adas, cengkih, pala, keris, belerang, kesumba, nuri putih, benang sulam, kapas, dan kain kepar. Komoditas ini diproduksi di daerah-daerah yang menjadi vasal Kediri, seperti cengkih di Maluku dan kayu cendana di Pulau Timor. Lada merupakan target utama kapal dagang Cina. Impor dari Tiongkok: Piring emas dan perak, pernis, seladon, perlengkapan porselen putih, dan bahan kimia seperti sinabar, tawas, dan arsen sulfida (digunakan untuk pencelupan dan kerajinan tangan).”

Perekonomian dan Perdagangan Kerajaan Kediri
Perekonomian kerajaan Kediri sangat bergantung pada perdagangan luar negerinya.
Ekspor Jawa: Gading, cula badak, mutiara, kayu wangi (cendana), adas, cengkih, pala, keris, belerang, kesumba, nuri putih, benang sulam, kapas, dan kain kepar. Komoditas ini diproduksi di daerah-daerah yang menjadi vasal Kediri, seperti cengkih di Maluku dan kayu cendana di Pulau Timor. Lada merupakan target utama kapal dagang Cina.
Impor dari Tiongkok: Piring emas dan perak, pernis, seladon, perlengkapan porselen putih, dan bahan kimia seperti sinabar, tawas, dan arsen sulfida (digunakan untuk pencelupan dan kerajinan tangan).
Selain itu, meskipun memiliki mata uangnya sendiri, sejumlah besar koin dari Dinasti Song dibawa masuk ke negara tersebut, yang menyebabkan berkembangnya ekonomi moneter di Kediri.
Menurut sumber berita dari Tiongkok, pekerjaan utama orang Panjalu berkisar pada pertanian (bercocok tanam padi), peternakan (sapi, babi hutan, unggas), dan perdagangan rempah-rempah.
Lokasi Strategis: Daha, ibu kota Kerajaan Panjalu, terletak di pedalaman, dekat lembah sungai Brantas yang subur.
Sistem Irigasi: Dari masa pemerintahan kerajaan sebelumnya Kahuripan, Panjalu mewarisi sistem irigasi, termasuk bendungan Waringin Sapta.
Sistem Monetisasi: Perekonomian Panjalu sebagian dimonetisasi, dengan koin emas dan perak yang dikeluarkan oleh istana.
Pada periode-periode selanjutnya, perekonomian Kadiri tumbuh dengan lebih bertumpu pada perdagangan, khususnya perdagangan rempah-rempah. Hal ini dihasilkan dari pengembangan angkatan laut Kediri, memberi mereka kesempatan untuk mengontrol jalur perdagangan rempah-rempah ke pulau-pulau timur.
Panjalu mengumpulkan rempah-rempah dari anak sungai di Kalimantan bagian selatan dan Kepulauan Maluku. Orang India dan Asia Tenggara kemudian mengangkut rempah-rempah ke pasar Mediterania dan Tiongkok melalui Rute Rempah-rempah yang menghubungkan rantai pelabuhan dari Samudra Hindia ke Cina selatan.
Pertanian, peternakan, dan perdagangan berkembang pesat dan mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Beberapa catatan menarik mengenai kehidupan masyarakat pada masa itu:
Industri: Peternakan ulat sutera untuk memproduksi pakaian sutra dan katun telah diadopsi oleh orang Jawa pada waktu itu.
Hukum: Tidak ada hukuman fisik (penjara atau penyiksaan) bagi para penjahat. Pelanggar hukum terpaksa membayar denda berupa emas, kecuali pencuri dan perampok yang dieksekusi mati.
Adat Perkawinan: Keluarga mempelai wanita menerima mas kawin berupa emas dari mempelai pria.
Kesehatan: Masyarakat Panjalu mengandalkan doa kepada dewa dan Buddha alih-alih mengembangkan pengobatan medis.
Festival Budaya:
Bulan ke-5: Festival air dirayakan dengan orang-orang yang bepergian dengan perahu di sepanjang sungai.
Bulan ke-10: Festival di pegunungan untuk bersenang-senang dan memainkan berbagai musik dengan instrumen seperti seruling, gendang, dan gambang kayu (bentuk gamelan kuno).