Memuat...
----

Hubungan dengan Bali

Sejak pernikahan antara Dharma Udayana Warmadewa dengan Mahendradatta yang kemudian melahirkan Airlangga terlihat juga perkawinan peradaban antara kebudayaan Jawa Timur dan Bali, terjadi penguatan-penguatan peradaban dan menghasilkan beberapa perubahan yang mengarah terjadinya integrasi budaya Hindu Jawa di Bali.

Hubungan dengan Bali

Hubungan Historis dan Budaya Kadiri dengan Bali
Sejak pernikahan antara Dharma Udayana Warmadewa dengan Mahendradatta yang kemudian melahirkan Airlangga terlihat juga perkawinan peradaban antara kebudayaan Jawa Timur dan Bali, terjadi penguatan-penguatan peradaban dan menghasilkan beberapa perubahan yang mengarah terjadinya integrasi budaya Hindu Jawa di Bali.

Sekaligus tercapainya puncak kebudayaan Jawa-Bali Hindu di Bali terutama pada masa kekuasaan Raja Udayana ini Tampak terjadi penguatan penggunaan Bahasa Jawa Kuno yang di Bali disebut sebagai Bahasa Kawi yang tampaknya sejak saat itu semakin sering dipergunakan sebagaimana dapat dilihat dari aspek sosial budaya, hukum, pertahanan, ekonomi dan politik.

Penggunaan Unsur "Jaya" dalam Gelar Raja Bali

Di Pulau Bali, terdapat adanya unsur kata "Jaya" yang digunakan pada keempat gelar raja Bali Kuno. Adanya unsur yang sama tersebut rupanya bukan semata-mata bersifat kebetulan tetapi juga menunjukkan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka.

Kemungkinan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka diperkuat oleh keterangan dalam Kakawin Bhāratayuddha. Dalam kitab itu, dikatakan bahwa Sri Jayabhaya dari Kadiri sempat meluaskan kekuasaannya ke Nusantara bagian timur dan tidak ada pulau yang sanggup mempertahankan diri dari kekuasaan Jayabhaya.

Empat orang raja yang menggunakan unsur Jaya dalam gelarnya adalah:

1.

Śri Maharaja Śri Jayaśakti (1133-1150 M),

2.

Śri Maharaja Śri Ragajaya (1155 M),

3.

Raja Śri Maharaja Jayapangus (1178-1181 M),

4.

Śri Maharaja Ekajayalancana beserta ibunya yaitu Sri Arjaryya Dengjaya Ketana (1200 M),

Analisis Hubungan Kekerabatan

Hubungan kekeluargaan di antara mereka tidak diketahui secara pasti. Walaupun demikian, berdasarkan kelaziman dalam sistem pergantian kepala negara suatu kerajaan tradisional serta digunakannya unsur jaya dalam gelar masing-masing raja itu maka kemungkinan besar hubungan antara raja yang satu dan penggantinya merupakan hubungan ayah dengan anaknya. Jika tidak demikian, paling tidak mereka dipertalikan oleh hubungan kekeluargaan yang sangat dekat.

Masa pemerintahan keempat raja itu hampir sezaman dengan masa pemerintahan raja-raja di kerajaan Kadiri:

1.

Jayabhaya (1135-1159 M),

2.

Sri Sarweswara (1159-1169 M),

3.

Sri Aryeswara (1169-1180 M),

4.

Kroncaryadhipa atau Sri Gandra (1180-1182 M),

5.

Kameswara (1182-1194 M),

6.

Kertajaya atau Srengga (1194-1222 M),