“Pada masa pemerintahan Sri Kameswara seorang pujangga bernama Mpu Dharmaja menciptakan mahakarya Kakawin Smaradahana (Asmaradahana) yang didedikasikan untuk Sri Kameswara dan permaisurinya Sri Kirana Ratu, putri dari kerajaan Janggala. Kakawin Smaradahana juga mengisahkan terbakarnya dewa Kamajaya dan dewi Ratih, menjelang kelahiran Ganesha. Pasangan dewa-dewi tersebut kemudian menitis dalam diri Sri Kameswara dan permaisurinya yang bernama Sri Kirana, dan dianggap merupakan inspirasi awal yang memunculkan cerita Panji, kisah cinta yang terinspirasi dari raja Kameswara dengan Sri Kirana. cerita Panji terfokus pada peyualangan romantika tokoh Panji dalam menemukan kekasih hatinya yaitu Candra Kirana.”
Pengaruh dalam Budaya dan Kelahiran Cerita Panji
Pada masa pemerintahan Sri Kameswara seorang pujangga bernama Mpu Dharmaja menciptakan mahakarya Kakawin Smaradahana (Asmaradahana) yang didedikasikan untuk Sri Kameswara dan permaisurinya Sri Kirana Ratu, putri dari kerajaan Janggala.
Kakawin Smaradahana juga mengisahkan terbakarnya dewa Kamajaya dan dewi Ratih, menjelang kelahiran Ganesha. Pasangan dewa-dewi tersebut kemudian menitis dalam diri Sri Kameswara dan permaisurinya yang bernama Sri Kirana, dan dianggap merupakan inspirasi awal yang memunculkan cerita Panji, kisah cinta yang terinspirasi dari raja Kameswara dengan Sri Kirana. cerita Panji terfokus pada peyualangan romantika tokoh Panji dalam menemukan kekasih hatinya yaitu Candra Kirana.
Cerita Panji mengalami perkembangan pesat dan tersebar luas pada zaman Majapahit. Cerita Panji menggambarkan kisah percintaan dan peperangan dari dua kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu.
Cerita Panji dengan tokoh sentral Inu Kertapati dan Galuh Chandrakirana memiliki banyak versi dan tersebar hingga ke wilayah Asia Tenggara. Selain Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera, kisah Panji juga menyebar hingga ke beberapa negara berikut:
Tokoh Raden Inu Kertapati diadaptasi dalam karya sastra dan drama tari dengan nama yang bervariasi, seperti Inao/อิเหนา (Siam), Inav/Eynao (Khmer), atau E-naung (Birma), sementara Dewi Sekartaji dikenal sebagai Bussaba/Bessaba. Di Sulawesi, ada cerita panji yang ditulis dalam bahasa Makassar, yang disebut Hikayat Cekele (Bahasa Melayu: Cekel).
Pada era Panjalu atau sering disebut dengan Kadiri, penanggalan dalam prasasti terbilang lengkap. Menurut de Casparis, prasasti masa Kadiri umumnya mempunyai 14 hingga 15 unsur dalam penanggalan, berupa:
Unsur-unsur penanggalan tersebut menunjukkan kemajuan pengetahuan leluhur terkait ilmu astronomi tradisional. Pengetahuan akan waktu ditandai juga dengan bintang, planet, rasi dan elemen langit lainnya.
Pada masa Kediri dikenali memiliki gaya penulisan aksaranya yang disebut dengan huruf "Kadiri Kwadrat" (Kadiri Block Letter) atau aksara kuadrat yaitu aksara Kawi yang ditulis besar dan tebal serta memiliki ciri khas penulisannya tersendiri yang menonjol dan umumnya menyerupai bidang persegi empat atau bujursangkar dengan gaya timbul.
Ciri Khas Huruf: Karena bentuknya yang persegi empat ini maka dinamakan dengan aksara kwadrat, adalah merupakan huruf spesifik yang hanya berasal dari "Masa Kadiri" dan tidak terdapat pada masa-masa Jawa Kuno lainnya. Hurufnya yang ditonjolkan keluar, mirip pahatan relief. dan berhias ornamentasi flora dan lainnya. Menjadikan aksara Kadiri kwadrat selain indah juga menunjukkan identitas budaya dari masa kerajaan Kediri.
Pada masa kejayaan kerajaan Kadiri, aksara kwadrat juga berfungsi menunjukkan pengaruh pada daerah-daerah di sekitarnya. Persebaran aksara Kadiri kwadrat meliputi: