Memuat...
----

Perkembangan agama

Corak keagamaan pada masa Kadiri dapat dilihat dari tinggalan arkeologis yang ditemukan di daerah Kediri. Berikut adalah beberapa bukti peninggalan situsnya: Candi Gurah dan Candi Tondowongso: Menunjukkan latar belakang agama Hindu khususnya Siwa berdasarkan dari berbagai arcanya yang ditemukan. Candi Kepung Petirtaan: Yang dilihat adalah bersifat Hindu karena tidak terlihat adanya unsur Buddha pada struktur arsitekturnya. Situs Adan-adan: Terdapat penemuan antara lain arca Dhyanibuddha Amitabha, fragmen lapik arca, dan kepala arca Bodhisatwa. Temuan tersebut menandakan bahwa peninggalan situs Adan-adan ini termasuk peninggalan Buddha aliran Mahayana.

Perkembangan Agama di Masa Kadiri
Corak keagamaan pada masa Kadiri dapat dilihat dari tinggalan arkeologis yang ditemukan di daerah Kediri. Berikut adalah beberapa bukti peninggalan situsnya:

Candi Gurah dan Candi Tondowongso: Menunjukkan latar belakang agama Hindu khususnya Siwa berdasarkan dari berbagai arcanya yang ditemukan.

Candi Kepung Petirtaan: Yang dilihat adalah bersifat Hindu karena tidak terlihat adanya unsur Buddha pada struktur arsitekturnya.

Situs Adan-adan: Terdapat penemuan antara lain arca Dhyanibuddha Amitabha, fragmen lapik arca, dan kepala arca Bodhisatwa. Temuan tersebut menandakan bahwa peninggalan situs Adan-adan ini termasuk peninggalan Buddha aliran Mahayana.

Konsep Gelar Raja dan Manifestasi Dewa Wisnu

Beberapa prasasti menyebutkan nama abhiseka atau nama gelar penobatan dari raja yang merupakan serapan dan berhubungan dengan Wisnu dalam kaitannya dengan konsep triwikrama misalnya (mahārāja šri sarwweswara triwikramāwatāraānindita).

Catatan Filosofis: Triwikrama adalah nama lain dari Wamana. Wamana adalah awatara Mahawisnu kelima, yang telah menghitung tiga dunia dengan tiga langkahnya. Hanya saja hal ini tidak secara langsung membuktikan bahwa Wisnuisme yang berkembang masa itu. Sebab landasan filosofis yang dikenal di Pulau Jawa ialah, semua raja dipandang sebagai titisan dewa Wisnu dalam mengurus rakyat dan dunia atau kerajaannya.

Sistem Sosial dan Konsep Dewaraja

Dalam sistem sosial kerajaan pada masa tersebut terjadi hubungan di mana seorang raja dianggap merupakan titisan dewa yang merupakan konsep dewaraja yang membuat seorang raja memiliki kedudukan istimewa.

Raja dianggap sebagai:

Pusat daya magis.

Merefleksikan daya magisnya pada alam sekitarnya sesuai dengan pandangan kosmologis masyarakat Jawa pada saat itu.

Oleh karena itu, raja dianggap mempunyai pengaruh untuk memproteksi warganya agar tercapai suatu kesejahteraan.