Memuat...
----

Perkembangan kerajaan

Di masa-masa awal kerajaan Kadiri setelah peristiwa pembelahan tidak banyak diketahui, masa pemerintahan dari Sri Samarawijaya dianggap sebagai masa kegelapan karena belum ditemukan prasasti yang dikeluarkannya secara mandiri. Menurut prasasti Turun Hyang berangka tahun 1044 yang diterbitkan oleh kerajaan Janggala, hanya memberitakan adanya indikasi terjadi perang saudara di antara kedua kerajaan sepeninggal raja Airlangga.

Masa Awal dan Masa Kegelapan Kadiri
Di masa-masa awal kerajaan Kadiri setelah peristiwa pembelahan tidak banyak diketahui, masa pemerintahan dari Sri Samarawijaya dianggap sebagai masa kegelapan karena belum ditemukan prasasti yang dikeluarkannya secara mandiri.

Menurut prasasti Turun Hyang berangka tahun 1044 yang diterbitkan oleh kerajaan Janggala, hanya memberitakan adanya indikasi terjadi perang saudara di antara kedua kerajaan sepeninggal raja Airlangga.

... 46b. Raja Kadiri turun dari balai, menghormat di kaki Sang Pendeta, menyapa Sang Pendeta dengan senang. Sang Pendeta segera berkata, "Saya minta selamat cucu Sang Raja. Maksud saya datang kemari melerai perangmu. Saya akan berhati-hati membagi dua wilayah desa di Pulau Jawa ini. Terimalah usul saya cucu, apabila Sang Raja tidak menerima nasihat saya, kau akan mendapatkan kutuk, karena kau berperang dengan saudaramu lagi.”

Sang Raja Kadiri berkata, “Mengapakah cucu Tuanku Sang Pendeta, tidak menuruti nasihat Sang Pendeta?”

Sang Pendeta berkata, “Kau ini cucuku, syukurlah apabila kau telah menerima nasihatku. Nah, tinggallah kau di sini, cucu. Saya berangkat ke Janggala, hendak melerai perangnya cucu Raja di Janggala. ...
— (Lontar Calon Arang)

Titik Terang Sejarah dan Para Penguasa Kadiri

Sejarah dari kerajaan Kadiri mulai dapat diketahui dengan adanya beberapa catatan prasasti dan kepemimpinan raja-raja berikut:

Sri Jitendra Kara (1051–1112): Diketahui dengan adanya prasasti Mataji. Prasasti Garaman dari pihak Janggala menyebutkan pada tahun 1053, Sri Mapanji Garasakan memberikan anugerah kepada desa Garaman atas bantuan ketika raja melawan Haji Panjalu musuh dan kakaknya sendiri, kemungkinan yang disebut sebagai Aji Panjalu saat itu adalah raja Jitendra Kara yang dalam prasasti Mataji juga menyebutkan kalimat Hajyan Panjalu.

Sri Bameswara: Berdasarkan prasasti Karanggayam tahun 1112. Dalam prasasti Padlegan ia memperingati penetapan suatu daerah menjadi tanah sima sebagai anugerah dari raja Bameswara kepada para pejabat desa Padlegan, karena telah menunjukkan kesetiaannya kepada raja dengan mengorbankan jiwanya di medan pertempuran.

Sri Jayabhaya (1135 M): Berdasarkan prasasti Hantang, raja yang memerintah telah berganti kepada Sri Jayabhaya. Panjalu atau Kediri di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Jenggala dengan semboyannya yang terkenal di dalam prasasti Ngantang, yaitu Pangjalu Jayati, yang berarti Kadiri Menang.

Masa Kejayaan dan Pengakuan Internasional

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya, kerajaan Kadiri mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan hingga mengalahkan pengaruh Sriwijaya di Sumatera.

Hal ini diperkuat dalam berita kronik Tiongkok yang berjudul Ling-wai-tai-ta karya Chou Ku-fei dijelaskan bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Tiongkok secara berurutan adalah:

- Arab (Bani Abbasiyah)

- Jawa (Panjalu)

- Sumatra (Sriwijaya)

Prasasti Talan dan Legitimasi Silsilah

Menurut prasasti Talan yang memiliki angka tahun 1136 di sisi depan dan 1039 pada sisi belakangnya memuat anugerah dari raja Jayabaya kepada warga desa Talan termasuk wilayah Panumbangan yang sejak dahulu telah menyimpan prasasti ripta atau lontar dari masa leluhurnya yaitu Airlangga.

Raja Jayabaya kemudian meneguhkan kembali prasasti ripta tersebut ke sebuah linggopala atau prasasti batu dengan memberi cap kerajaan bersimbol Garuda Mukha, serta menambahkan anugerah lain kepada warga Talan karena telah berbakti kepada raja Airlangga yang memakai Garuda Mukha sebagai cap dari masa pemerintahannya. Raja Jayabaya sendiri mengklaim bahwa raja Airlangga adalah nenek moyangnya.

Struktur Jabatan Berdasarkan Nama Hewan (Prasasti Jaring)
Di dalam prasasti Jaring dari masa pemerintahan Sri Indra untuk pertama kalinya memuat nama-nama hewan yang dipakai sebagai nama depan para pejabat kerajaan, misalnya:

- Menjangan Puguh

- Lembu Agra

- Kebo Waruga

- Kebo Salawak

- Tikus Jinada

- Macan Kuning

- Gajah Kuning

Macan Putih, dan sebagainya.

Nama kepangkatan menjangan, lembu, kebo, macan, gajah, tikus bisa menunjukkan tinggi rendahnya pangkat seseorang dalam istana. Nama-nama binatang untuk kepangkatan istana juga masih terus berlanjut pada masa kerajaan Singhasari dan Majapahit setelah Kadiri runtuh.

Catatan Budaya: Penamaan diri dengan binatang pada masa Jawa Kuno karena hewan tertentu dihargai dan dianggap memiliki peran penting dalam kebudayaan masyarakat pendukungnya sehingga mempunyai tempat istemewa di hati penggunanya, dan merupakan salah satu bentuk perwujudan apresiasi budaya masyarakat Jawa Kuno akan alam sekitar.

Kemajuan Maritim dan Peran Sipil Militer

Adapun isi prasasti Jaring berupa pengabulan permohonan penduduk desa Jaring oleh Sri Indra melalui Senapati Sarwwajala yang dapat disamakan dengan laksamana atau panglima angkatan laut.

Adanya penyebutan jabatan itu, maka besar kemungkinan kerajaan Kediri telah mempunyai angkatan laut yang kuat dan menunjukkan kemajuan Kediri dalam bidang maritim. Sehingga dapat diketahui bahwa pada masa raja Sri Indra, pejabat kemiliteran mengalami perluasan peran tidak hanya sebatas menangani urusan perang atau kemiliteran, tetapi juga urusan sipil masyarakat.

Lampiran Prasasti Wurare

Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan – oleh karena itu kuatlah Janggala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya).
(Prasasti Wurare)