Memuat...
----

Etimologi & Asal-usul Nama Kediri

Nama Kediri memiliki akar historis yang sangat kuat dan dapat divalidasi secara ilmiah melalui kajian epigrafi dan filologi Nusantara. Penyelidikan etimologis menunjukkan bahwa nama ini bukan sekadar representasi fiksi atau mitos rakyat, melainkan sebuah identitas geopolitik yang telah tercatat sejak masa klasik kuno

Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum peristiwa pembelahan kerajaan oleh Airlangga. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang, bahwa saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan telah berpindah ke Dahanapura dan menyebut Airlangga sebagai raja Daha.

... 15. Sigra datang pwa sirêng sagara Rupěk, mantas ta sira ngkana, Sang Yogîswara Mpu Baradah. Tan lingěn pwa sirêng (h)ěnu lampah Sang Mahamuni ambramaga. Sigra datang ta sirêng nagarêng Daha, panggih ta sirâtmajanira Sang Maharaja Erlanggya sědang tinangkil...

... 15. Segera tiba di Sagara Rupek, beliau menyeberang di sana, Sang Pendeta Baradah. Tidak diceritakan perjalanan Sang Pendeta di jalan sangat cepat jalannya. Beliau segera tiba di kerajaan Daha, bertemu dengan putranya Sang Maharaja Erlangga yang sedang dihadap...
— (Lontar Calon Arang).

Nama Panjalu

Pada mulanya, nama "Pañjalu" pembacaan yang tepat sesuai dengan aksara adalah Pangjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Panjalu, bahkan nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung di dalam kronik Tiongkok dari Dinasti Song yang berjudul Lingwai Daida, (Hanzi: 嶺外代答; Pinyin: Lĭngwài Dàidā; Wade–Giles: Ling-wai-tai-ta) tahun 1178 M. Sebuah kitab geografi yang ditulis pada abad ke-12 M, oleh Chou Ch'u-fei (Pinyin: Zhōu Qùfēi) seorang birokrat di kota Guilin, provinsi Guanxi, wilayah Tiongkok.

Pangjalu berasal dari kata Jalu yang memiliki arti Jantan atau Pria, unsur dari maskulinitas selanjutnya diberi kata Pang yang adalah Pe, merupakan tambahan sehingga menjadi kalimat Pe-jantan dalam konteks kewilayahan istilah pejantan tersebut bermakna wilayah yang subur serta berdikari atau mandiri. Istilah Kadhiri merupakan sinonim atau persamaan kata dari Pangjalu yang bermakna kemandirian. Kasus tersebut mirip dengan nama Majapahit dengan Wilwatikta, di mana wilwa adalah buah maja sedangkan tikta adalah pahit, begitu pula dengan antara Jiwana, yaitu nama lain dari Kahuripan dalam bahasa Sanskerta.

Nama Kadiri

Nama Kadiri atau Kediri pembacaan yang tepat sesuai dengan aksara adalah Kadhiri, juga dianggap berasal dari kata bahasa Sansekerta, khadri, yang berarti pacé atau mengkudu (Morinda citrifolia).[butuh rujukan] Batang kulit kayu pohon ini menghasilkan zat perwarna ungu kecokelatan yang digunakan dalam pembuatan batik, sementara buahnya dipercaya memiliki khasiat pengobatan.[butuh rujukan] Nama yang serupa juga dikenal dengan Kadiri sebuah kota di Andhra Pradesh, India.
Asal-usul kata yang dipandang lebih tepat adalah diturunkan dan berasal dari kata "kāḍiri" (kadhiri) dalam bahasa Jawa kuno yang berarti bisa berdiri sendiri, mandiri, berdiri tegak, berkepribadian, atau berswasembada. Kadiri merupakan sisi selatan pulau Jawa, seturut sungai Bengawan Solo hingga muara laut. Meninjau dari beberapa prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Panjalu dapat dilihat frasa kalimat yang tertera dalam prasasti Ceker dari tahun 1107 Saka (1185 M) yang menyebutkan:
"... śrī mahārāja mantuk śīma nira ring bhūmi kaḍiri ..."
Terjemahan inskripsi: (Sri Maharaja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri)
Dalam prasasti Kamulan yang berangka tahun 1116 Saka (1194 M) juga menyebutkan:
"... tatkāla ni n kentar sangke kaḍatwan ring katang-katang deni nkin malṛ yatik kaprabhun śrī mahārāja siniwi riŋ bhūmi kaḍiri ..."
Terjemahan inskripsi: (ketika meninggalkan istananya yang berada di Katang-katang sehingga tetap dapat menjalankan pemerintahan sebagai Sri Maharaja yang bertahta di Bhumi Kadiri)
Pada isi kalimat di prasasti Mula Malurung: (VII.a) yang diterbitkan oleh Kertanegara tahun (1255 M) sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.
"... sira narāryya mūrddhaja, atmaja nira muwaḥ, sira śrī kṛtānagara nāma niran inabhiśeka. pinasaṅakěn ṅkāneŋ maṇikanaka siṅhāsana. riŋ nagara daha. sinewita niŋ bhūmi kaḍiri..."
Terjemahan dari kalimat tersebut diketahui bahwa putra Nararyya Seminingrat yang bernama Sri Kertanegara memiliki nama asli Nararyya Murddhaja, diangkat sebagai raja bawahan di nagara Daha yang terletak di Bhumi Kadiri.
Transkrip isi Prasasti Batur yang merupakan titah raja Hayam Wuruk dari masa Majapahit.
" muŋ mpu kapat. śūra sapatnamarddhana. rakryan kanuruhan. mpu pakis. wairibala wirantaka. rakryan ma ri pu saṅkhya pranāśa. rakryan tumȇŋguŋ mpu nala. sāḍurakṣaṇana saḍunigramātatpara. makapuras sa jaŋgala kāḍiri. mpu mada. raṇa maddhyāryya nukula karaṇa. parasainya śirah kāpala gandopāna ma..."
Pada bait kalimat prasasti Carama berupa sebuah lempeng tembaga yang berada disimpan di Museum Arkeologi Frankfurt Jerman, bertarikh 07 Juni 1015 M. Yang merupakan anugerah dari Sri Mahadewi yang bertakhta di Kadhiri.
"... Śwasti saka warşatita, 937, karttika masa, tithi, dwādaśi Kṛṣṇapaksa, wara, ma, pa, bu, wayang, wawakaraṇa, maghanaksatra pitr Dewata, kumbharaśi, irika diwaśa budyah (pu dyah) ghara manusuk darmma Tani manguri, panganugrahanira paduka, śri mahadewi, siniwi ring kaḍiri, Sang tita tlas, ginawayakên, lawan sawah rong têmpah sa (F.H. van Naerssen, dlm Kartoadmodjo, S.1985:66) ..."
Toponimi penyebutan wilayah Kadiri untuk pertama kali ditemukan di dalam prasasti Harinjing B tahun 843 Saka (19 September 921 Masehi) yang dikeluarkan oleh raja Rakai Layang Dyah Tulodong dari kerajaan Medang atau Mataram Kuno.
"... i śrī mahārāja mijil angkȇn cetra ka tlu i sang pamgat asing juru i kaḍiri ikang ri wilang ..."
Terjemahan inskripsi: (kepada sri maharaja dikeluarkan setiap Bulan Caitra tanggal 3, kepada Sang Pemutus Perkara bernama asing petugas di Kadiri, yang dari Wilang)