Memuat...
109

Kerajaan Awal

Raja kedatuan Medang yang terakhir bernama Dharmawangsa Teguh saingan berat kedatuan Sriwijaya. Pada tahun 1016, Haji Wurawari seorang raja bawahan dari Lwaram sekitar Cepu, Blora bersekutu dengan Sriwijaya untuk menyerang istana Wwatan sekarang sekitar Maospati, Magetan ibu kota dari kerajaan Medang, yang pada saat itu tengah mengadakan sebuah pesta pernikahan antara putri Dharmawangsa Teguh dengan Airlangga, raja Dharmawangsa Teguh sendiri tewas dalam serangan tersebut sedangkan keponakannya yang bernama Airlangga berhasil lolos ditemani pembantunya Mpu Narotama.

Runtuhnya kerajaan Medang
Raja kedatuan Medang yang terakhir bernama Dharmawangsa Teguh saingan berat kedatuan Sriwijaya. Pada tahun 1016, Haji Wurawari seorang raja bawahan dari Lwaram sekitar Cepu, Blora bersekutu dengan Sriwijaya untuk menyerang istana Wwatan sekarang sekitar Maospati, Magetan ibu kota dari kerajaan Medang, yang pada saat itu tengah mengadakan sebuah pesta pernikahan antara putri Dharmawangsa Teguh dengan Airlangga, raja Dharmawangsa Teguh sendiri tewas dalam serangan tersebut sedangkan keponakannya yang bernama Airlangga berhasil lolos ditemani pembantunya Mpu Narotama.

Airlangga adalah putra dari pasangan Mahendradatta saudari Dharmawangsa Teguh dengan Udayana raja dari kerajaan Bedahulu, Bali. ia lolos bersama dengan abdi setia nya yang bernama Mpu Narotama. Sejak saat itu Airlangga menjalani kehidupan sebagai pertapa di hutan pegunungan Vanagiri sekarang Wonogiri, dan selanjutnya menuju Gunung Pucangan dan Sendang Made, Kudu, Jombang.

Berdirinya Medang Kahuripan

Pada saat pelarian dan dalam masa persembunyiannya dengan kalangan pertapa, setelah melewati tiga tahun hidup di dalam hutan pada tahun 1019, Airlangga didatangi utusan rakyat bersama dengan senopati yang masih setia untuk menyampaikan permintaan agar dirinya mendirikan dan membangkitkan kembali sisa-sisa kejayaan Medang. Atas dukungan para pendeta dari ketiga aliran yakni Hindu, Buddha, dan Mahabrahmana ia kemudian membangun kembali sisa-sisa kerajaan Medang yang istananya telah hancur tersebut, yang lazim dikenal sekarang dengan kerajaan Medang Koripan atau Medang Kahuripan dengan ibu kota baru yang bernama Wwatan Mas.

Kemudian dalam tahun penting yaitu 941 tahun saka , tanggal 13 paro terang , bulan magha , pada hari kamis, menghadaplah para abdi dan para Brahmana terpandang kepada raja di raja Erlangga , menunduk hormat di sertai harapan tulus. Mereka dengan penuh ketulusan mengajukan permohonan kepadanya: “perintahlah negara ini sampai batas-batas yang paling jauh ! ...”
(Prasasti Pucangan)

Ibu kota baru bernama Wwatan Mas terletak di dekat sekitar Gunung Penanggungan. Pada mulanya wilayah kerajaan yang diperintah Airlangga hanya meliputi daerah Gunung Penanggungan dan sekitarnya, karena banyak daerah-aerah bawahan kerajaan Medang yang membebaskan diri setelah keruntuhannya. Baru setelah kedatuan Sriwijaya dikalahkan Rajendra Coladewa, raja Colamandala dari kerajaan Chola, wilayah Coromandel, India di tahun 1025, Airlangga baru bisa dengan leluasa membangun kembali dan menegakkan kekuasaan wangsa Isyana di tanah Jawa.

Sejak tahun 1029, peperangan demi peperangan dijalani Airlangga. Satu demi satu kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dapat ditaklukkannya. Periode antara tahun 1029 sampai dengan tahun 1037 adalah periode penaklukkan yang dilakukan oleh Airlangga terhadap musuh-musuhnya baik yang berada wilayah barat, timur, maupun selatan. Berita pada prasasti Pucangan memberikan keterangan tentang penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh Airlangga atas musuh-musuhnya tersebut. Namun demikian di antara tahun-tahun tersebut bukan berarti istana Airlangga telah aman dari serangan musuh, keberhasilannya dalam penaklukkannya ternyata juga diselingi dengan kekalahan bahkan pelarian. Pada tahun 1031 (953 Saka) Airlangga kehilangan kota Wwatan Mas karena diserang oleh raja wanita yang kuat bagai raksasa. Raja wanita itu adalah Ratu Dyah Tulodong, yang merupakan salah satu raja kerajaan Lodoyong (sekarang wilayah Tulungagung, Jawa Timur).
Dyah Tulodong digambarkan sebagai ratu yang memiliki kekuatan luar biasa. Salah satu peristiwa sejarah penting adalah pertempuran antara bala tentara Airlangga yang berhasil dikalahkan oleh Dyah Tulodong. Pertempuran tersebut terjadi lantaran Dyah Tulodong berusaha membendung ekspansi Airlangga yang waktu itu sudah menguasai wilayah-wilayah di sekitar kerajaan Lodoyong. Bahkan di beberapa riwayat, diceritakan pasukan khusus yang dibawa Ratu Dyah Tulodong merupakan prajurit-prajurit wanita pilihan, pasukan ini bahkan berhasil memukul mundur pasukan Airlangga dari pusat kota kerajaannya "Wwatan Mas" di dekat Gunung Penanggungan hingga harus pergi ke Patakan Sambeng, Lamongan. Namun satu tahun kemudian di penghujung tahun 1032 (954 Saka), dari arah utara, pasukan Airlangga bergerak ke selatan menuju wilayah Lodoyong.
Dyah Tulodong berhasil dikalahkan oleh Airlangga lewat pertempuran sengit. Tidak lama kemudian Raja Wurawari musuh bebuyutannya pun dapat dihancurkannya, sekaligus membalaskan dendam Airlangga dan wangsa Isyana. Raja Airlangga juga berhasil mengalahkan raja Wijayawarmman, raja terakhir yang masih belum tunduk pada (bulan Kartika tahun 959 Saka atau 10 November 1037 Masehi). Sejak saat itu wilayah kerajaan Airlangga mencakup hampir seluruh Jawa Timur. Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah bahkan pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali.

Wwatan Mas

Menurut berita pada prasasti Cane di tahun 1021, menyebutkan pusat pemerintahan pertama kali Airlangga yang berada di Wwatan Mas, (Çrĩ Mahãrãja ri Maniratnasinghasana Makadatwan ri Wwatan Mas) artinya Sri Maharaja di singgasana permata berkedaton di Wwatan Mas.

Kahuripan

Tahun 1032, menurut keterangan prasasti Terep, Airlangga membangun ibu kota baru di wilayah Janggala (Kahuripan i bhumi Janggala) yang diduga berada di daerah Kabupaten Sidoarjo sekarang. Berita ini juga termuat dalam prasasti Kamalagyan tahun 1037, (makateweka pandri Śrī Mahārājā Makadatwan i Kahuripan). Nama Kahuripan inilah yang kemudian juga lazim dipakai sebagai nama kerajaan yang dipimpin Airlangga, sama halnya nama Singhasari yang sebenarnya adalah nama ibu kota, lazim dipergunakan sebagai nama kerajaan yang dipimpin oleh Kertanegara.

Madander

Dalam tahun 1037, dikeluarkan prasasti Kusambyan yang memuat tentang informasi mengenai kedaton "Madander", (madwal Makadatwan i Madanḍer) yang diperkirakan sebagai lokasi dari istana Airlangga yang terletak di sekitar Kabupaten Jombang.

Dahana

Disekitar akhir tahun 1042, berdasarkan prasasti Pamwatan juga keterangan dalam Serat Calon Arang, di akhir masa pemerintahannya tersebut, Airlangga kemudian memindahkan ibu kotanya dan mendirikan kota Dahana, sekarang adalah Kota Kediri.